Rendang Sapi

Tempo hari lumayan sukses bikin rendang sapi hasil gugling sono sini. Berikut resepnya.

image

1. 500 gr daging sapi, potong kotak kotak sesuai selera.
2. Santan kental 1000 ml, hasil dari dua buah kelapa. Makin kental makin sip hasilnya.
3. Kentang mini

Bumbu yg dihaluskan
1. 10 siung bawang merah
2. 10 siung bawang putih
3. 5 bh Cabe Merah Besar
4. 4 bh Cabe Rawit or sesuai selera
5. 5 cm kunyit
6. Lengkuas secukupnya
7. Jahe secukupnya
8. 6 bh kemiri
9. 1 sdm ketumbar
10. 1 sdt merica
11. 1/4 sdt jintan
12. 5 bh cengkeh
13. Asam jawa 2 butir
14. Daun kunyit
15. 4 bh Daun salam
16. 3 btg sereh
17. Gula jawa
18. Gula pasir
19. Garam
20. Minyak untuk menumis

Cara memasak
1. Haluskan semua bumbu, kecuali jahe, lengkuas, daun salam, daun kunyit dan sereh.
2. Tumis bumbu dengan api kecil hingga matang dan harum.
3. Masukkan santan, aduk perlahan hingga mendidih supaya santan tidak pecah
4. Masukkan daging sapi, kecilkan api. Dengan api kecil daging rendang bisa lebih empuk.
5. Masak hingga kuahnya mengering sesuai selera, kurang lebih 90-130 menit
6. Lebih mantap disajikan dengan
daun singkong dan sambal cabai ijo
7. Selamat mencoba

@sent from my XPERIA

It’s Cool

Beberapa waktu ini Blackberry gw mulai bermasalah. Masalah yang paling utama adalah baterainya ternyata sudah sangat tidak memadahi, indikatornya adalah baterai sering ngedrop padahal tak dijalankan aplikasi apapun. Kedua, baterainya ternyata sudah menggembung. Awalnya gw sama sekali tak menyadarinya, awalnya gw kira tutup cover belakang BBnya emang udah rusak karena sering jatuh. Setelah diamati dengan seksama ternyata itu adalah efek samping dari baterai yang menggembung, sehingga lama kelamaan tutup cover belakang terdesak dan menjadi renggang. 

Baterai yang sering ngedrop makin menjadi masalah, tatkala beberapa waktu yang lalu gw sering keluar rumah. Hape ngedrop, padahal dalam situasi yang sedang dibutuhkan itu rasanya nyesek jendral. Akhirnya dari situ gw mulai berfikir untuk membeli handphone. Disaat yang bersamaan ternyata bokap juga beli handphone baru, hape hape china gitu deh. Pas gw coba lumayan juga sih akses internetnya, meskipun layarnya “pencet” screen, tapi buat harga 300an ribu lumayan lah. Gw mulai tergoda untuk membeli handphone model tersebut, tapi pas browsing browsing harga kok gw tersesat di area Smartphone. Terus terang fiturnya begitu menggoda iman……hahahhaha, namun gw juga sempat ragu karena otomatis harganya lebih mahal dong. Masalah utamanya adalah sekarang sedang jadi pengangguran gituh, jadi mau beli sesuatu yang mahal itu harus dipikirkan masak masak.

Bagi gw beli handphone itu sesuai kebutuhan, kalo udah terdesak kebutuhan baru gw mau beli handphone baru. Meskipun gadget lama gw (baca BB) sudah sangat sangat katrok fiturnya, namun karena masih bisa dipakai buat apa beli handphone baru. Entah dapat ilham dari mana, makin sering browsing lama lama makin gw naikin budgetnya….LOL, hingga suatu ketika gw tanya tanya ke sobat gw Ancha tentang Android. Dia bilang yang terpenting adalah layarnya capasitive, baterai tahan lama, prosesornya cepat. Mungkin dari situlah gw udah kena racun Android. Selain fitur buat berinet ria, gw juga udah ngeces pengen punya mainan di gadget touchsreen hahaha.

So akhirnya gw kerucutkan pilihan gw diantara dua brand terkenal Sony dan Samsung. Setelah gw pilah pilah dari segi fitur dan harga, maka terpilihlah dua option ini. Samsung Galaxy Ace Plus dan Sony Xperia U . Akhirnya pilihan tersebut saya sampaikan ke sobat saya agyu, diapun merekomendasikan Sony U. Seperti yang lalu lalu, ni bocah kalo merekomendasiin barang udeh macam kek sales brand tersebut…..LOL. Singkat cerita abis dari dokter gigi, gw langsung tancap gas ke pusat handphone di Matahari Singosaren. Setelah tanya tanya harga dibeberapa toko, akhirnya terbelilah Sony Xperia U. Alhamdulillah langsung diisiin aplikasi segala macam sama mas masnya, lengkap dengan game gamenya dongggg. Jadilah beberapa hari ini gw asyik banget otak atik gadget baru.

  Ciyus deh, Sony U ini kerennnnn bangetttttt. Satu komentar gw tentang si Sony ini. Sehabis pake Smartphone Android, Blackberry udah seperti rongsokan saja. Bayangin aja dengan harga yang hampir sama tapi fitur fitur bagai langit dan bumi. Untuk koneksi internet akhirnya gw pilih Axis Unlimited bulanan. Kenapa gw pilih Axis, pertama karena harganya yang paling ekonomis, kedua sinyalnya cukup Ok dirumah gw. 

Oh iya, saat ini gw lagi asyik dengan fitur Instagram for Android. Aplikasi ini bener bener mengakomodasi hobi fotografi gw, klop juga deh karena kamera yang dibenamkan dalam Sony Xperia U ini cukup mumpuni. Oh iya garis transparan dibawah tombol navigasi sungguh keren. Warnanya bisa berubah rubah sesuai dengan warna aplikasi yang sedang jalan di layar. Puas deh beli si Sony U ini.

Barakallah

Hari ini, setahun yang lalu adalah hari yang sangat bersejarah dalam kehidupan saya. Hari itu adalah malam dimana saya akan kembali ke Jakarta, tak ada firasat apapun bahwa malam tersebut akan terjadi moment yang bersejarah dalam kehidupan saya.

Malam itu adalah, malam dimana pertama kali saya mengenalnya. Tak ada firasat apapun sebelumnya, tapi mungkin itu adalah jawaban atas doa doa kami dan orangtua. Malam itu akan selalu saya ingat, karena saat itulah babak baru dalam kehidupan saya dimulai. Sebulan setelah perkenalan itu, si Mas melamar saya kerumah. Dan tiga bulan kemudian tepatnya diakhir Desember si Mas mengucapkan Ijab Qobul di rumah orang tua.

Barakallahu laka wa barakallahu alaika wa jamaa bainakuma fi khair.

Exploring Makau City Of Light #Day 4

Ini adalah lanjutan cerita tentang backpackeran KL-Makau-HK tempo hari. Di hari keempat ini, kami berlima meninggalkan HK untuk menuju Makau kembali. Di itenerary kami jadwal naik First Ferry semula adalah jam 11.00, namun karena suatu hal akhirnya molor jadi jam 12.30. Belajar dari pengalaman sebelumnya, sewaktu sarapan saya konsentrasi menghabiskan menu makan di KFC tanpa berbicara sedikitpun dan memakai strategi makan cepat and berhasil. Sehabis makan saya langsung minum 2 butir antimo (red-perjalanan sebelumnya saya mabok berat efek cuaca buruk dan sok sok-an ngga minum antimo). Ternyata reaksi obat begitu cepat, walhasil tidak sampai setengah jam saya mulai ngantuk berat, jadilah sepanjang jalan kaki dari KFC menuju MTR lanjut ke China Ferry Terminal agak sempoyongan.

Dari Stasiun MTR Tsim Sha Tsui kami jalan kaki menuju China Ferry Terminal, cukup mudah menemukan lokasinya karena dipintu keluar stasiun terdapat papan petunjuk. Karena jaraknya cukup dekat (500 meteran) akhirnya kami jalan kaki. Jangan bayangkan pelabuhannya seperi Muara Angke atau Merak, karena ternyata pelabuhannya terletak disebuah gedung bertingkat dan untuk menuju kesana kami harus naik lift terlebih dahulu. China Ferry Terminal ini sama sekali tak terlihat seperti pelabuhan malah mirip perkantoran. Tepat pukul 12.30 kami naik ferry yang terletak dibalik gedung. Perjalanan ditempuh dalam waktu satu jam, namun bagaimana ceritanya saya tidak tahu karena saya terlelap hingga ferry bersandar di Makau.

Tiba di Makau kami mendapatkan ratusan orang berderet deret untuk antri di imigrasi. Ada pengalaman tak menyenangkan disini, sepanjang saya mengantri orang dibelakang saya berisik dan dorong dorong mulu karena ingin buru buru. Hellooo menurut loe kalo situ dorong dorong dorong lekas selesai proses imigrasinya…..antri bo antriiii. Berulang ulang dia dorong, berulang ulang saya omelin dan dipelototin temen saya yang cowok tapi tetap dorong dorong. Akhirnya kami berlima berstrategi merapatkan barisan, pokoknya jangan sampai dia merangsek mendahului kita dan pas dia kelar urusan imigrasi dia keluar sambil ngomel ngomel lagi…..hahahaha rasakannn. Dari bahasanya waktu ngomong ama sodaranya sepertinya dia orang Korea.

Usai urusan imigrasi Aga dan Radit booking hotel untuk penginapan di KL, karena kami tidak mau lagi menginap di Cosmopolitan Hostel. Setelah berhasil kami buru buru menuju ke Airport untuk menitipkan tas. Setelah nego nego nego dengan bahasa tarsan, akhirnya supir taksi tersebut setuju untuk membawa kami berlima sekaligus. Pelu diingat sopir taksi di Makau ini kayak pembalap, jadi selalu berpegangan pada kursi kalo tidak mau terombang ambing. Di Bandara kami menitipkan carrier kami di fasilitas Left Luggage Bandara (saya lupa tarifnya, pokoknya murah). Dari Bandara kami naik Shuttle Bus (gratis) menuju Venetian Makau. Di Makau memang tersedia banyak shuttle bus untuk menuju lokasi lokasi casino (salah satu strategi untuk menarik wisatawan). Tak sampai 30 menit kami sampai di Venetian Makau, bangunannya sunggug wow, interiornya sungguh bikin mulut terperangah terutama Miniatur sungai di venesia lengkap dengan gondola serta nyanyian para pengayuh gondola. Bagian yang menarik lain adalah plafon bangunan yang mirip dengan langit, pada siang hari langit berwarna biru dan menjelang sore langitnyapun ikut berubah menjadi warna sunset.

Kami memutuskan untuk makan siang disini, walaupun cukup pusing untuk memilih menu makanan yang halal (dan saya rasa tak ada). Bermodal bismillah akhirnya saya memilih nasi steak ayam (jangan tanya tanya ya soal makanan :p). Kami takjub melihat porsi makanan orang orang disekitar foof court, porsinya sungguh besar melebihi porsi kuli. Sengaja memilih makan disini karena ingin menikmati makan siang dengan suasana eropa. Dari dulu kami memang suka bermimpi ingin duduk santai makan di kedai pinggir jalan disalah satu sudut eropa. That’s why saya ngeces ngeces liat film The Tourist.

Selesai makan kami langsung menuju destinasi selanjutnya, yaitu Senado dan Saint Paul Ruin. Untuk mempersingkat waktu kami naik taksi, sebenarnya bisa gratis dengan naik shuttle bus Venetian Makau-Airport dilanjutkan dengan Aiport-Grand Lisboa dilanjutkan dengan jalan kaki. Dalam waktu kurang lebih 15 menit kami tiba di Senado, saat itu sudah hampir senja. Tanpa buang buang waktu kami jalan jalan di sekitar Saint Paul Ruin dan berfoto foto sepuasnya. Kami cukup beruntung waktu itu bunga bunganya sedang bermekaran dan karena sudah senja maka lampu lampu sudah dinyalakan. Sebelum pulang kami menyempatkan untuk mencicipi Egg Tart yang legendaris itu, rasanya memang sungguh lezat sekali.

 Photo dari Aga

Pukul 18.30 kami meninggalkan Saint Paul Ruin untuk menuju Senado. Kami begitu norak melihat view didepan kami, jalanan dan bangunan benar benar serasa di Eropa. Bahkan sewaktu menginjakkan kaki di Disneyland Resort saya dan Aga teman saya dengan noraknya loncat loncat saking senangnya (ndeso). Dari Senado kami berjalan kaki menuju Grand Lisboa, sebuah bangunan casino yang amat megah dan pantang untuk dilewatkan. Sebelum browsing browsing kami mengira tak banyak obyek wisata di Makau, ternyata oh ternyata obyek wisata dimalam hari sungguh lebih mempesona karena eh karena kami mulai tergila gila dengan arsitektur gedung casino dan lightingnya. Sayang seribu sayang pukul 8 malam kami sudah harus check-in di Airport untuk kembali ke KL.

Obyek wisata di Makau ini relatif cukup dekat dekat jaraknya, jadi lebih baik jika dinikmatin dengan jalan kaki. Selain itu jalan kaki juga untuk meminimalkan biaya transport. Setelah puas melihat dan motret sana sini akhirnya kami naik bus untuk menuju Airport. Halte terletak di seberang Grand Lisboa, untuk menuju bandara kami naik bus dengan jurusan Aeroporto (satu satunya huruf latin yang kami lihat), ongkosnya 4 HKD. Oh ya mata uang HKD bisa dipakai di Makau. Agak sedih karena belum puas mengeksplor kota Makau, karena pesawat tidak bisa menunggu dan kami harus kembali ke KL yang panas serta kembali ke tanah air. International Macau Airport terletak di tepi pantai, mirip mirip bandara di Bali. Perjalanan Makau-KL ditempuh dalam waktu 4 jam sehingga kami tiba di KL pada tengah malam.

Ada kejadian lucu ketika kami mendaratkan kaki di Terminal Low Cost KL ini, begitu menjejakan kaki bayangan dinegeri mimpi langsung musnah seketika begitu melihat betapa nggak bangetnya bandara low cost di KL. Selesai urusan imigrasi pun kami langsung membongkar kostum kami, jika semula berjaket dan baju rangkap rangkap maka disini cukup menganakan satu lapis saja itupun masih gerah.